Produk Pupuk Organik PT. Natural Nusantara

Dengan semangat mencapai “INDONESIA MAKMUR RAYA BERKEADILAN” serta memberikan sesuatu yang bermanfaat dan bermakna bagi Dunia. ...

Distributor Resmi PT. Natural Nusantara "From Gersang To Rindang"

Dengan semangat mencapai “INDONESIA MAKMUR RAYA BERKEADILAN” serta memberikan sesuatu yang bermanfaat dan bermakna bagi Dunia. ...

Distributor Resmi PT. Natural Nusantara "GO ORGANIK"

Dengan semangat mencapai “INDONESIA MAKMUR RAYA BERKEADILAN” serta memberikan sesuatu yang bermanfaat dan bermakna bagi Dunia. ...

Distributor Resmi PT. Natural Nusantara N-390589 "PRESTASI PT NATURAL NUSANTARA

Dengan semangat mencapai “INDONESIA MAKMUR RAYA BERKEADILAN” serta memberikan sesuatu yang bermanfaat dan bermakna bagi Dunia. ...

Kamis, 02 April 2015

HAMA PADA TANAMAN DURIAN

Posted by PT. NASA Natural nusantara On 17.32
[HAMA PADA TANAMAN DURIAN]

#Hama Dan Penyakit Tanaman Durian#
HAMA PADA DURIAN

Durian merupakan salah satu buah yang paling di gemari,hal ini di sebabkan  oleh rasanya yang lezat dan ciri khas bau dari durian tersebut.Maka dari itu banyak para petani yang membudidayakannya.Dan dari budidaya pun tak lepas juga dari hama dan penyakit dari tanaman durian tersebut yang mungkin sebagian para petani durian belum tahu dan belum memahami bagaimana teknik untuk mengatasi hama dan penyakit tersebut.Berdasarkan dari itu lah akan saya kupas tentang Hama dan penyakit tanaman durian dan cara penanggulangannya dengan menggunakan Pupuk Organik Nasa dan Pestisida Organik Nasa yang telah terbukti mampu membantu para petani durian dalam meningkatkan produksi panen  tanaman durian mereka.Adapun Hama dan Penyakit pada tanaman durian sbb :

HAMA

Penggerek buah

Ciri :  telur diletakkan pada kulit buah dan dilindungi oleh jaring-jaring mirip rumah laba-laba. Larva yang telah menetas dari telur langsung menggerek dan melubangi dinding-dinding buah hingga masuk ke dalam. Larva tersebut tinggal di dalam buah sampai menjadi dewasa. Buah yang diserang kadang-kadang jatuh sebelum tua.
Penyebaran : serangga penggerek buah menyebar dengan cara terbang dari pohon durian yang satu ke pohon lainnya. Serangga penggerek buah ini bertelur pada buah durian yang dihinggapinya. Kegiatan bertelur ini dilakukan secara periodik setiap menjelang musim kemarau.
Pengendalian:  Penyemprotan dengan  menggunakan Pestisida Organik Nasa yang berupa pestona + Aero-810 dengan dosis ( 5 + 1/3) tutup /tangki semprot.lakukan penyemprotan di sore hari.
Lebah mini

Ciri : hama ini berukuran kecil, tubuhnya berwarna coklat kehitaman dan sayapnya bergaris putih lebar. Setelah lebah menjadi merah violet, ukuran panjangnya menjadi 3,5 cm. Pada fase ulat (larva), hama ini menyerang daun-daun durian muda. Selama hama tersebut mengalami masa istirahat (bentuk kepompong), mereka akan menempel erat pada kulit buah. Setelah menjadi lebah serangga ini mencari makan dengan cara menggerek ranting-ranting muda dan memakan daun-daun muda.
Pengendalian : Penyemprotan dengan  menggunakan Pestisida Organik Nasa yang berupa pestona + Aero-810 dengan dosis ( 5 + 1/3) tutup /tangki semprot.lakukan penyemprotan di sore hari.
Ulat penggerek bunga ( Prays citry )

Ulat ini menyerang tanaman yang baru berbunga, terutama bagian kuncup bunga dan calon buah.
Ciri: ulat ini warna tubuhnya hijau dan kepalanya merah coklat, setelah menjadi kupu-kupu berwarna merah sawo agak kecoklatan, abu-abu dan bertubuh langsing.
Gejala: kuncup bunga yang terserang akan rusak dan putiknya banyak yang berguguran. Demikian pula, benang sari dan tajuk bunganya pun rusak semua, sedangkan kuncup dan putik patah karena luka digerek ulat. Penularan ke tanaman lain dilakukan oleh kupu-kupu dari hama tersebut.
Pengendalian:
Olah tanah yang bagus dengan memakai Pupuk Organik NASA yang berupa super nasa di campurkan pupuk kimia dasar yang biasa di pakai. pupuk kimia dasar bisa di kurangi 30 % – 50%  dari anjuran dinas pertanian setempat.
Penyemprotan dengan  menggunakan Pestisida Organik Nasa yang berupa pestona + Aero-810 dengan dosis ( 5 + 1/3) tutup /tangki semprot.lakukan penyemprotan di sore hari.
Kutu loncat durian

Ciri: serangga berwarna kecoklatan dan tubuhnya diselimuti benang-benang lilin putih hasil sekresi tubuhnya; bentuk tubuh, sayap dan tungkainya mirip dengan kutu loncat yang menyerang tanaman lamtoro.
Gejala: kutu loncat bergerombol menyerang pucuk daun yang masih muda dengan cara menghisap cairan pada tulang-tulang daun sehingga daun-daun akan kerdil dan pertumbuhannya terhambat; setelah menghisap cairan, kutu ini mengeluarkan cairan getah bening yang pekat rasanya manis dan merata ke seluruh permukaan daun sehingga mengundang semut-semut bergerombol.
Pengendalian:
daun dan ranting-ranting yang terserang dipangkas untuk dimusnahkan.
Penyemprotan dengan  menggunakan Pestisida Organik Nasa yang berupa pestona + Aero-810 dengan dosis ( 5 + 1/3) tutup /tangki semprot. lakukan penyemprotan di sore hari.
Atau menyemprotkan Pestisida Organik Nasa yang berupa Natural BVR dengan dosis 4 sendok makan Natural BVR / tangki semprot.Lakukan penyemprotan di sore hari.
Penyakit

Phytopthora parasitica dan Pythium complectens

Penyebab : Pythium complectens, yang menyerang bagian tanaman seperti daun, akar dan percabangan.
Penularan dan penyebab : penyakit ini menular dengan ke pohon lain yang berdekatan. Penularan terjadi bila ada akar yang terluka. Penularan terjadi bersama-sama dengan larutnya tanah atau bahan organik yang terangkut air.
Gejala: daun durian yang terserang menguning dan gugur mulai dari daun yang tua, cabang pohon kelihatan sakit dan ujung-ujungnya mati, diikuti dengan berkembangnya tunas-tunas dari cabang di bawahnya. Kulit di atas permukaan tanah menjadi coklat dan membusuk. Pembusukan pada akar hanya terbatas pada akar-akar sebelah bawah, tetapi dapat meluas dari ujung akar lateral sampai ke akar tunggang. Jika dilihat dari luar akar yang sakit tampak normal, tetapi jaringan kulitnya menjadi colat tua dan jaringan pembuluh menjadi merah jambu.
Pengendalian :
Olah tanah yang bagus dengan memakai Pupuk Organik NASA yang berupa super nasa di campurkan pupuk kimia dasar yang biasa di pakai. pupuk kimia dasar bisa di kurangi 30 % – 50%  dari anjuran dinas pertanian setempat.
Pemakaian Produk Nasa yang berupa Natural GLIO yang sudah di fermentasikan dengan pupuk kandang selama 2 minggu,cara fermentasinya 1 kotak Natural Glio di campurkan dengan 50 Kg pupuk kandang. Lalu masukkan ke lubang tanah di sekitar tanaman durian yang mau ditanamkan
Upayakan drainase yang baik agar tanah tidak terlalu basah dan air tidak mengalir ke permukaan tanah pada waktu hujan.
Kanker bercak

Penyebab : Pythium palvimora, terutama menyerang bagian kulit batang dan kayu. Penyebaran oleh spora sembara bersamaan dengan butir-butir tanah atau bahan organik yang tersangkut air. Penyebaran penyakit ini dipacu oleh curah hujan yang tinggi dalam cuaca kering. Jamur dapat tumbuh dengan baik pada suhu antara 12-35°C.
Gejala: kulit batang durian yang terserang mengeluarkan blendok (gum) yang gelap; jaringan kulit berubah menjadi merah kelam, coklat tua atau hitam; bagian yang sakit dapat meluas ke dalam sampai ke kayu; daun-daun rontok dan ranting-ranting muda dari ujung mulai mati.
Pengendalian :
Olah tanah yang bagus dengan memakai Pupuk Organik NASA yang berupa super nasa di campurkan pupuk kimia dasar yang biasa di pakai. pupuk kimia dasar bisa di kurangi 30 % – 50%  dari anjuran dinas pertanian setempat.
Pemakaian Produk Nasa yang berupa Natural GLIO yang sudah di fermentasikan dengan pupuk kandang selama 2 minggu,cara fermentasinya 1 kotak Natural Glio di campurkan dengan 50 Kg pupuk kandang. Lalu masukkan ke lubang tanah di sekitar tanaman durian yang mau ditanamkan.
Penyemprotan dengan  menggunakan Pestisida Organik Nasa yang berupa pestona + Aero-810 dengan dosis ( 5 + 1/3) tutup /tangki semprot.lakukan penyemprotan di sore hari.
Di bekas luka pada pohon durian bisa kita oleskan POC NASA dengan cara 1 tutup Poc Nasa + 1 liter air,lalu oleskan di bekas luka pada pohon durian.
Jamur upas

Gejala: pada cabang-cabang dan kulit kayu terdapat benang-benang jamur mengkilat seperti sarang laba-laba pada cabang-cabang. Jamur berkembang menjadi kerak berwarna merah jambu dan masuk ke dalam kulit dan kayu sehingga menyebabkan matinya cabang.
Pengendalian:
Olah tanah yang bagus dengan memakai Pupuk Organik NASA yang berupa super nasa di campurkan pupuk kimia dasar yang biasa di pakai. pupuk kimia dasar bisa di kurangi 30 % – 50%  dari anjuran dinas pertanian setempat.
Pemakaian Produk Nasa yang berupa Natural GLIO yang sudah di fermentasikan dengan pupuk kandang selama 2 minggu,cara fermentasinya 1 kotak Natural Glio di campurkan dengan 50 Kg pupuk kandang. Lalu masukkan ke lubang tanah di sekitar tanaman durian yang mau ditanamkan.


Info & order:
STOCKIST AB. 790 & Distributor Resmi NASA N-390589
Pin BB   : 555DC295
Whatsapp : +62821-6767-4774
sms/telp : 0823-0460-3288

BUDIDAYA PADI ORGANIK NASA

Posted by PT. NASA Natural nusantara On 17.29

BUDIDAYA PADI ORGANIK NASA


budidaya padi organik nasa panen
Produksi gabah padi di Indonesia rata-rata 4 - 5 ton/ha. PT. NATURAL NUSANTARA berupaya membantu tercapainya ketahanan pangan nasional melalui peningkatan produksi padi berdasarkan asas kuantitas, kualitas dan kelestarian ( K-3 ).

SYARAT TUMBUH

  • Padi dapat tumbuh pada ketinggian 0-1500 mdpl dengan temperatur 19 - 270 C,
  • Memerlukan penyinaran matahari penuh tanpa naungan.
  • Angin berpengaruh pada penyerbukan dan pembuahan.
  • Padi menghendaki tanah lumpur yang subur dengan ketebalan 18-22 cm dan pH tanah 4 - 7.

PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA

A. BENIH

  • Dengan jarak tanam 25 x 25 cm per 1000 m2 sawah membutuhkan 1,5-3 kg.
  • Jumlah ideal benih yang disebarkan sekitar 50-60 gr/m2.
  • Perbandingan luas tanah untuk pembenihan dengan lahan tanam adalah 3 : 100, atau 1000 m2 sawah : 3,5 m2 pembibitan.

poc nasa pada budidaya padi organik

B. PERENDAMAN BENIH

Benih direndam POC NASA dan air, dosis 2 cc/lt air selama 6-12 jam. tiriskan dan masukkan karung goni, benih padi yang mengambang dibuang. Selanjutnya diperam menggunakan daun pisang atau dipendam di dalam tanah selama 1 - 2 malam hingga benih berkecambah serentak.

C. PEMELIHARAAN PEMBIBITAN / PENYEMAIAN

Persemaian diairi dengan berangsur sampai setinggi 3 - 5 cm. Setelah bibit berumur 7-10 hari dan 14-18 hari, dilakukan penyemprotan POC NASA dengan dosis 2 tutup/tangki.


D. PEMINDAHAN BENIH

Bibit yang siap dipindahtanamkan ke sawah berumur 21-40 hari, berdaun 5-7 helai, batang bawah besar dan kuat, pertumbuhan seragam, tidak terserang hama dan penyakit.


F. PEMUPUKAN

Pemupukan seperti pada tabel berikut, dosis pupuk sesuai dengan hasil panen yang diinginkan. Semua pupuk makro dicampur dan disebarkan merata ke lahan sesuai dosis.
Khusus penggunaan Hormonik bisa dicampurkan dengan POC NASA kemudian disemprotkan ( 3-4 tutup POC NASA + 1 tutup HORMONIK /tangki ). Hasil akan bervariasi tergantung jenis varietas, kondisi dan jenis tanah, serangan hama dan penyakit.

TABEL PENGGUNAAN POC NASA DAN SUPERNASA

tabel penggunaan POC NASA dan SUPERNASA

tabel penggunaan POC NASA dan SUPERNASA

tabel penggunaan POC NASA dan SUPERNASA

CARA PENGGUNAAN SUPERNASA & POC NASA
  • Pemberian SUPERNASA dengan cara dilarutkan dalam air secukupnya kemudian disiramkan ( hanya disiramkan)
  • Jika dengan POC NASA dicampur air secukupnya bisa disiramkan atau disemprotkan.
  • Khusus SP-36 bisa dilarutkan SUPERNASA atau POC NASA, sedang pupuk makro lainnya disebar secara merata.

G. PENGOLAHAN LAHAN RINGAN

Dilakukan pada umur 20 HST, bertujuan untuk sirkulasi udara dalam tanah, yaitu membuang gas beracun dan menyerap oksigen.


H. PENYIANGAN

Penyiangan rumput-rumput liar seperti jajagoan, sunduk gangsir, teki dan eceng gondok dilakukan 3 kali umur 4 minggu, 35 dan 55.


I. PENGAIRAN

Penggenangan air dilakukan pada fase awal pertumbuhan, pembentukan anakan, pembungaan dan masa bunting. Sedangkan pengeringan hanya dilakukan pada fase sebelum bunting bertujuan menghentikan pembentukan anakan dan fase pemasakan biji untuk menyeragamkan dan mempercepat pemasakan biji.


J. PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT

  • Hama putih (Nymphula depunctalis).

    • Gejala : menyerang daun bibit, kerusakan berupa titik-titik yang memanjang sejajar tulang daun, ulat menggulung daun padi.
    • Pengendalian:
      • pengaturan air yang baik, penggunaan bibit sehat, melepaskan musuh alami, menggugurkan tabung daun;
      • menggunakan BVR atau Pestona.

  • Padi Thrips (Thrips oryzae). 
    • Gejala: daun menggulung dan berwarna kuning sampai kemerahan, pertumbuhan bibit terhambat, pada tanaman dewasa gabah tidak berisi.
    • Pengendalian: BVR atau Pestona.

  • Wereng
    • Wereng penyerang batang padi:
      • wereng padi coklat (Nilaparvata lugens),
      • wereng padi berpunggung putih (Sogatella furcifera)
    • Wereng penyerang daun padi: 
      • wereng padi hijau (Nephotettix apicalis dan N. impicticep).
    • Cara merusak dengan menghisap cairan batang padi dan dapat menularkan virus.
    • Gejala:
      • tanaman padi menjadi kuning dan mengering,
      • sekelompok tanaman seperti terbakar,
      • tanaman yang tidak mengering menjadi kerdil.
    • Pengendalian:
      • bertanam padi serempak,
      • menggunakan varitas tahan wereng seperti IR 36, IR 48, IR- 64, Cimanuk, Progo dsb,
      • membersihkan lingkungan,
      • melepas musuh alami seperti laba-laba, kepinding dan kumbang lebah;
      • penyemprotan BVR.

  • Walang sangit (Leptocoriza acuta). 
    • Menyerang buah padi yang masak susu.
    • Gejala :
      • buah hampa atau berkualitas rendah seperti berkerut,
      • berwarna coklat dan tidak enak;
      • pada daun terdapat bercak bekas isapan dan bulir padi berbintik-bintik hitam.
    • Pengendalian:
      • bertanam serempak,
      • peningkatan kebersihan,
      • mengumpulkan dan memusnahkan telur,
      • melepas musuh alami seperti jangkrik, laba-laba;
      • penyemprotan BVR atau PESTONA.

  • Kepik hijau (Nezara viridula).
    • Menyerang batang dan buah padi.
    • Gejala:
      • pada batang tanaman terdapat bekas tusukan,
      • buah padi yang diserang memiliki noda bekas isapan dan
      • pertumbuhan tanaman terganggu.
    • Pengendalian:
      • mengumpulkan dan memusnahkan telur-telurnya,
      • penyemprotan BVR atau PESTONA.

  • Penggerek batang padi 
    • Terdiri atas :
      • penggerek batang padi putih (Tryporhyza innotata),
      • kuning (T. incertulas),
      • bergaris (Chilo supressalis) dan
      • merah jambu (Sesamia inferens).
    • Menyerang batang dan pelepah daun.
    • Gejala:
      • pucuk tanaman layu, kering berwarna kemerahan dan mudah dicabut,
      • daun mengering dan seluruh batang kering.
      • Kerusakan pada tanaman muda disebut hama "sundep" dan pada tanaman bunting (pengisian biji) disebut "beluk".
    • Pengendalian: 
      • menggunakan varitas tahan,
      • meningkatkan kebersihan lingkungan,
      • menggenangi sawah selama 15 hari setelah panen agar kepompong mati,
      • membakar jerami;
      • menggunakan BVR atau PESTONA.

  • Hama tikus (Rattus argentiventer).

    • hama tikus


    • Menyerang batang muda (1-2 bulan) dan buah.
    • Gejala: adanya tanaman padi yang roboh pada petak sawah dan pada serangan hebat ditengah petak tidak ada tanaman.
    • Pengendalian:
      • pergiliran tanaman,
      • tanam serempak,
      • sanitasi,
      • gropyokan,
      • melepas musuh alami seperti ular dan burung hantu,
      • penggunaan NAT (Natural Aromatic).

  • Burung.

    • hama padi burung

    • Menyerang menjelang panen,
    • Gejala : tangkai buah patah, biji berserakan.
    • Pengendalian: mengusir dengan bunyi-bunyian atau orang-orangan.

  • Penyakit Bercak daun coklat.

    • Penyebab: jamur Helmintosporium oryzae.
    • Gejala:
      • Menyerang pelepah, malai, buah yang baru tumbuh dan bibit yang baru berkecambah.
      • Biji berbercak-bercak coklat tetapi tetap berisi,
      • Padi dewasa busuk kering,
      • Biji kecambah busuk dan kecambah mati.
    • Pengendalian:
      • merendam benih di air hangat + POC NASA,
      • pemupukan berimbang, tanam padi tahan penyakit ini.

  • Penyakit Blast. 
    • Penyebab: jamur Pyricularia oryzae.
    • Gejala: menyerang daun, buku pada malai dan ujung tangkai malai. Daun, gelang buku, tangkai malai dan cabang di dekat pangkal malai membusuk. Pemasakan makanan terhambat dan butiran padi menjadi hampa.
    • Pengendalian:
      • membakar sisa jerami, menggenangi sawah, menanam varitas unggul Sentani, Cimandiri IR-48, IR-36, pemberian pupuk N di saat pertengahan fase vegetatif dan fase pembentukan bulir;
      • pemberian GLIO di awal tanam.

  • Busuk pelepah daun. 
    • Penyebab: jamur Rhizoctonia sp.
    • Gejala: menyerang daun dan pelepah daun pada tanaman yang telah membentuk anakan. Menyebabkan jumlah dan mutu gabah menurun.
    • Pengendalian:
      • menanam padi tahan penyakit
      • pemberian GLIO pada saat pembentukan anakan.

  • Penyakit Fusarium. 
    • Penyebab: jamur Fusarium moniliforme.
    • Gejala: menyerang malai dan biji muda menjadi kecoklatan, daun terkulai, akar membusuk.
    • Pengendalian: merenggangkan jarak tanam, mencelupkan benih + POC NASA dan disebari GLIO di lahan

  • Penyakit kresek/hawar daun. 
    • Penyebab: bakteri Xanthomonas campestris pv oryzae) Gejala: menyerang daun dan titik tumbuh. Terdapat garis-garis di antara tulang daun, garis melepuh dan berisi cairan kehitam-hitaman, daun mengering dan mati.
    • Pengendalian:
      • menanam varitas tahan penyakit seperti IR 36, IR 46, Cisadane, Cipunegara, menghindari luka mekanis, sanitasi lingkungan;
      • pengendalian diawal dengan GLIO.

  • Penyakit kerdil. 
    • Penyebab: virus ditularkan oleh wereng coklat Nilaparvata lugens.
    • Gejala: menyerang semua bagian tanaman, daun menjadi pendek, sempit, berwarna hijau kekuning-kuningan, batang pendek, buku-buku pendek, anakan banyak tetapi kecil.
    • Pengendalian: sulit dilakukan, usaha pencegahan dengan memusnahkan tanaman yang terserang ada mengendalikan vector dengan BVR atau PESTONA.

  • Penyakit tungro. 
    • Penyebab: virus yang ditularkan oleh wereng hijau Nephotettix impicticeps.
    • Gejala:
      • menyerang semua bagian tanaman,
      • pertumbuhan tanaman kurang sempurna,
      • daun kuning hingga kecoklatan,
      • jumlah tunas berkurang,
      • pembungaan tertunda,
      • malai kecil dan tidak berisi.
    • Pengendalian:
      • menanam padi tahan wereng seperti Kelara, IR 52, IR 36, IR 48, IR 54, IR 46, IR 42 dan
      • mengendalikan vektor virus dengan BVR.


K. PANEN DAN PASCA PANEN

  • Panen dilakukan jika butir gabah 80 % menguning dan tangkainya menunduk
  • Alat yang digunakan ketam atau sabit
  • Setelah panen segera dirontokkan malainya dengan perontok mesin atau tenaga manusia
  • Usahakan kehilangan hasil panen seminimal mungkin.
  • Setelah dirontokkan diayaki (Jawa : ditapeni) dilakukan pengeringan dengan sinar matahari 2-3 hari.
  • Setelah kering lalu digiling yaitu pemisahan gabah dari kulit bijinya.
  • Beras siap dikonsumsi.

PRODUK NASA YANG DIGUNAKAN
  • POC NASA
  • SUPERNASA
  • BVR
  • PESTONA
  • GLIO

Info & order:
STOCKIST AB. 790 & Distributor Resmi NASA N-390589
Pin BB   : 555DC295
Whatsapp : +62821-6767-4774
sms/telp : 0823-0460-3288

BUDIDAYA JAGUNG

Posted by PT. NASA Natural nusantara On 17.24

BUDIDAYA JAGUNG SECARA ORGANIK
MENGGUNAKAN TEKNOLOGI ORGANIK NASA

budidaya jagung secara organik nasa

Budidaya jagung secara organik dengan menerapkan teknologi organik dari PT. Natural Nusantara ( NASA ) 

I. PENDAHULUAN

Di Indonesia jagung merupakan komoditi tanaman pangan penting, namun tingkat produksi belum optimal. PT. Natural Nusantara berupaya meningkatkan produksi tanaman jagung secara kuantitas, kualitas dan ramah lingkungan /berkelanjutan ( Aspek K-3).

II. SYARAT PERTUMBUHAN

  • Curah hujan ideal sekitar 85-200 mm/bulan dan harus merata.
  • Pada fase pembungaan dan pengisian biji perlu mendapatkan cukup air.
  • Sebaiknya ditanam awal musim hujan atau menjelang musim kemarau.
  • Membutuhkan sinar matahari, tanaman yang ternaungi, pertumbuhannya akan terhambat dan memberikan hasil biji yang tidak optimal. Suhu optimum antara 230 C - 300 C.
  • Jagung tidak memerlukan persyaratan tanah khusus, namun tanah yang gembur, subur dan kaya humus akan berproduksi optimal.
  • pH tanah antara 5,6-7,5.
  • Aerasi dan ketersediaan air baik,
  • kemiringan tanah kurang dari 8 %.
  • Daerah dengan tingkat kemiringan lebih dari 8 %, sebaiknya dilakukan pembentukan teras dahulu.
  • Ketinggian antara 1000-1800 m dpl dengan ketinggian optimum antara 50-600 m dpl

III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA

A. Syarat benih

budidaya jagung poc nasa
  • Benih sebaiknya bermutu tinggi baik genetik, fisik dan fisiologi (benih hibryda).
  • Daya tumbuh benih lebih dari 90%.
  • Kebutuhan benih + 20-30 kg/ha.
  • Sebelum benih ditanam, sebaiknya direndam dalam POC NASA (dosis 2-4 cc/lt air semalam).


B. Pengolahan Lahan

budidaya jagung glio
  • Lahan dibersihkan dari sisa tanaman sebelumnya, sisa tanaman yang cukup banyak dibakar, abunya dikembalikan ke dalam tanah, kemudian dicangkul dan diolah dengan bajak.
  • Tanah yang akan ditanami dicangkul sedalam 15-20 cm, kemudian diratakan.
  • Setiap 3 m dibuat saluran drainase sepanjang barisan tanaman. Lebar saluran 25-30 cm, kedalaman 20 cm. Saluran ini dibuat terutama pada tanah yang drainasenya jelek.
  • Di daerah dengan pH kurang dari 5, tanah dikapur (dosis 300 kg/ha) dengan cara menyebar kapur merata/pada barisan tanaman, + 1 bulan sebelum tanam.
  • Sebelum tanam sebaiknya lahan disebari GLIO yang sudah dicampur dengan pupuk kandang matang untuk mencegah penyakit layu pada tanaman jagung.

C. Pemupukan

pemupukan jagung nasa

budidaya jagung supernasa
  • akan lebih baik pupuk dasar menggunakan SUPER NASA dosis ± 1 botol/1000 m2 dengan cara :
    • alternatif 1 :
      • 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 3 lt air (jadi larutan induk).
      • Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.

    • alternatif 2 :
      • 1 gembor (10-15 lt) beri 1 sendok peres makan SUPER NASA untuk menyiram + 10 m bedengan.


D. Teknik Penanaman

1. Penentuan Pola Tanaman

Beberapa pola tanam yang biasa diterapkan :
  • Tumpang sari ( intercropping ) :
    • melakukan penanaman lebih dari 1 tanaman (umur sama atau berbeda).
    • Contoh : tumpang sari sama umur seperti jagung dan kedelai; tumpang sari beda umur seperti jagung, ketela pohon, padi gogo.

  • Tumpang gilir ( Multiple Cropping ):
    • dilakukan secara beruntun sepanjang tahun dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain untuk mendapat keuntungan maksimum.
    • Contoh: jagung muda, padi gogo, kedelai, kacang tanah, dll.

  • Tanaman Bersisipan ( Relay Cropping ):
    • pola tanam dengan menyisipkan satu atau beberapa jenis tanaman selain tanaman pokok (dalam waktu tanam yang bersamaan atau waktu yang berbeda).
    • Contoh: jagung disisipkan kacang tanah, waktu jagung menjelang panen disisipkan kacang panjang.

  • Tanaman Campuran ( Mixed Cropping ) :
    • penanaman terdiri beberapa tanaman dan tumbuh tanpa diatur jarak tanam maupun larikannya, semua tercampur jadi satu.
    • Lahan efisien, tetapi riskan terhadap ancaman hama dan penyakit.
    • Contoh: tanaman campuran seperti jagung, kedelai, ubi kayu.
2. Lubang Tanam dan Cara Tanam
  • Lubang tanam ditugal, kedalaman 3-5 cm, dan tiap lubang hanya diisi 1 butir benih.
  • Jarak tanam jagung disesuaikan dengan umur panennya, semakin panjang umurnya jarak tanam semakin lebar.
  • Jagung berumur panen lebih 100 hari sejak penanaman, jarak tanamnya 40x100 cm (2 tanaman /lubang).
  • Jagung berumur panen 80-100 hari, jarak tanamnya 25x75 cm (1 tanaman/lubang).

E. Pengelolaan Tanaman

1. Penjarangan dan Penyulaman
  • Tanaman yang tumbuhnya paling tidak baik, dipotong dengan pisau atau gunting tajam tepat di atas permukaan tanah.
  • Pencabutan tanaman secara langsung tidak boleh dilakukan, karena akan melukai akar tanaman lain yang akan dibiarkan tumbuh.
  • Penyulaman bertujuan untuk mengganti benih yang tidak tumbuh/mati, dilakukan 7-10 hari sesudah tanam (hst).
  • Jumlah dan jenis benih serta perlakuan dalam penyulaman sama dengan sewaktu penanaman.
2. Penyiangan
  • Penyiangan dilakukan 2 minggu sekali.
  • Penyiangan pada tanaman jagung yang masih muda dapat dengan tangan atau cangkul kecil, garpu dll
  • Penyiangan jangan sampai mengganggu perakaran tanaman yang pada umur tersebut masih belum cukup kuat mencengkeram tanah maka dilakukan setelah tanaman berumur 15 hari.
3. Pembumbunan
  • Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan untuk memperkokoh posisi batang agar tanaman tidak mudah rebah dan menutup akar yang bermunculan di atas permukaan tanah karena adanya aerasi.
  • Dilakukan saat tanaman berumur 6 minggu, bersamaan dengan waktu pemupukan.
  • Tanah di sebelah kanan dan kiri barisan tanaman diuruk dengan cangkul, kemudian ditimbun di barisan tanaman.
  • Dengan cara ini akan terbentuk guludan yang memanjang.
4. Pengairan dan Penyiraman

Setelah benih ditanam, dilakukan penyiraman secukupnya, kecuali bila tanah telah lembab, tujuannya menjaga agar tanaman tidak layu. Namun menjelang tanaman berbunga, air yang diperlukan lebih besar sehingga perlu dialirkan air pada parit-parit di antara bumbunan tanaman jagung.


F. Hama dan Penyakit

1. Hama
a. Lalat bibit (Atherigona exigua Stein)
  • Gejala: daun berubah warna menjadi kekuningan, bagian yang terserang mengalami pembusukan, akhirnya tanaman menjadi layu, pertumbuhan tanaman menjadi kerdil atau mati.
  • Penyebab: lalat bibit dengan ciri-ciri warna lalat abu-abu, warna punggung kuning kehijauan bergaris, warna perut coklat kekuningan, warna telur putih mutiara, dan panjang lalat 3-3,5 mm.
  • Pengendalian:
  1. penanaman serentak dan penerapan pergiliran tanaman.
  2. tanaman yang terserang segera dicabut dan dimusnahkan.
  3. Sanitasi kebun.
  4. semprot dengan PESTONA
b. Ulat Pemotong
  • Gejala: tanaman terpotong beberapa cm diatas permukaan tanah, ditandai dengan bekas gigitan pada batangnya, akibatnya tanaman yang masih muda roboh.
  • Penyebab: beberapa jenis ulat pemotong: Agrotis ipsilon; Spodoptera litura, penggerek batang jagung (Ostrinia furnacalis), dan penggerek buah jagung (Helicoverpa armigera).
  • Pengendalian:
  1. Tanam serentak atau pergiliran tanaman;
  2. Cari dan bunuh ulat-ulat tersebut (biasanya terdapat di dalam tanah);
  3. Semprot PESTONA, VITURA atau VIREXI.

pestisida organik pestonaAgen Hayati Organik vituraagen hayati pengendali ulat virexi

2. Penyakit
a. Penyakit bulai (Downy mildew)
  • Penyebab: cendawan Peronosclerospora maydis dan P. javanica serta P. philippinensis, merajalela pada suhu udara 270 C ke atas serta keadaan udara lembab.
  • Gejala:
  1. umur 2-3 minggu daun runcing, kecil, kaku, pertumbuhan batang terhambat, warna menguning, sisi bawah daun terdapat lapisan spora cendawan warna putih;
  2. umur 3-5 minggu mengalami gangguan pertumbuhan, daun berubah warna dari bagian pangkal daun, tongkol berubah bentuk dan isi;
  3. pada tanaman dewasa, terdapat garis-garis kecoklatan pada daun tua.
  • Pengendalian:
  1. penanaman menjelang atau awal musim penghujan;
  2. pola tanam dan pola pergiliran tanaman, penanaman varietas tahan;
  3. cabut tanaman terserang dan musnahkan;
  4. Preventif diawal tanam dengan GLIO.
b. Penyakit bercak daun (Leaf bligh)
  • Penyebab: cendawan Helminthosporium turcicum.
  • Gejala: pada daun tampak bercak memanjang dan teratur berwarna kuning dan dikelilingi warna coklat, bercak berkembang dan meluas dari ujung daun hingga ke pangkal daun, semula bercak tampak basah, kemudian berubah warna menjadi coklat kekuning-kuningan, kemudian berubah menjadi coklat tua. Akhirnya seluruh permukaan daun berwarna coklat.
  • Pengendalian:
    • pergiliran tanaman.
    • mengatur kondisi lahan tidak lembab;
    • Prenventif diawal dengan GLIO.
c. Penyakit karat (Rust)
  • Penyebab: cendawan Puccinia sorghi Schw dan P.polypora Underw.
  • Gejala: pada tanaman dewasa, daun tua terdapat titik-titik noda berwarna merah kecoklatan seperti karat serta terdapat serbuk berwarna kuning kecoklatan, serbuk cendawan ini berkembang dan memanjang.
  • Pengendalian:
    • mengatur kelembaban;
    • menanam varietas tahan terhadap penyakit;
    • sanitasi kebun;
    • semprot dengan GLIO.
d. Penyakit gosong bengkak (Corn smut/boil smut)
  • Penyebab: cendawan Ustilago maydis (DC) Cda, Ustilago zeae (Schw) Ung, Uredo zeae Schw, Uredo maydis DC.
  • Gejala: masuknya cendawan ini ke dalam biji pada tongkol sehingga terjadi pembengkakan dan mengeluarkan kelenjar (gall), pembengkakan ini menyebabkan pembungkus rusak dan spora tersebar.
  • Pengendalian:

    • mengatur kelembaban;
    • memotong bagian tanaman dan dibakar;
    • benih yang akan ditanam dicampur GLIO dan POC NASA .
e. Penyakit busuk tongkol dan busuk biji
  • Penyebab: cendawan Fusarium atau Gibberella antara lain Gibberella zeae (Schw), Gibberella fujikuroi (Schw), Gibberella moniliforme.
  • Gejala: dapat diketahui setelah membuka pembungkus tongkol, biji-biji jagung berwarna merah jambu atau merah kecoklatan kemudian berubah menjadi warna coklat sawo matang.
  • Pengendalian:
    • menanam jagung varietas tahan, pergiliran tanam, mengatur jarak tanam, perlakuan benih;
    • GLIO di awal tanam.

Catatan :
  • Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan.
  • Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki.
G. Panen dan Pasca Panen

jagubg panen


  • Ciri dan Umur Panen : Umur panen + 86-96 hari setelah tanam. Jagung untuk sayur (jagung muda, baby corn) dipanen sebelum bijinya terisi penuh (diameter tongkol 1-2 cm), jagung rebus/bakar, dipanen ketika matang susu dan jagung untuk beras jagung, pakan ternak, benih, tepung dll dipanen jika sudah matang fisiologis.

  • Cara Panen : Putar tongkol berikut kelobotnya/patahkan tangkai buah jagung.

  • Pengupasan : Dikupas saat masih menempel pada batang atau setelah pemetikan selesai, agar kadar air dalam tongkol dapat diturunkan sehingga cendawan tidak tumbuh.

  • Pengeringan : Pengeringan jagung dengan sinar matahari (+7-8 hari) hingga kadar air + 9% -11 % atau dengan mesin pengering.

  • Pemipilan : Setelah kering dipipil dengan tangan atau alat pemipil jagung.

  • Penyortiran dan Penggolongan : Biji-biji jagung dipisahkan dari kotoran atau apa saja yang tidak dikehendaki (sisa-sisa tongkol, biji kecil, biji pecah, biji hampa, dll). Penyortiran untuk menghindari serangan jamur, hama selama dalam penyimpanan dan menaikkan kualitas panenan.


    Info & order:
    STOCKIST AB. 790 & Distributor Resmi NASA N-390589
    Pin BB   : 555DC295
    Whatsapp : +62821-6767-4774
    sms/telp : 0823-0460-3288

BUDIDAYA TERONG

Posted by PT. NASA Natural nusantara On 17.21

BUDIDAYA TERONG ORGANIK
MENGUNAKAN TEKNOLOGI ORGANIK DARI NASA

budidaya terong organik nasa natural nusantara
Budidaya Terong dengan menggunakan teknologi organik untuk hasil melimpah dari PT. Natural Nusantara ( NASA ).


PENDAHULUAN

Prospek budidaya terong makin baik untuk dikelola secara intensif dan komersial dalam skala agribisnis, namun hasil rata-ratanya masih rendah. Hal ini disebabkan bentuk kultur budidaya yang masih sampingan, belum memadainya informasi teknik budidaya di tingkat petani.

PT. Natural Nusantara berusaha memberi alternatife solusi bagaimana teknik budidaya terong sehingga tercapai peningkatan produksi secara K-3, yaitu Kuantitas, Kualitas dan Kelestarian lingkungan.


SYARAT TUMBUH

  • Dapat tumbuh di dataran rendah tinggi
  • Suhu udara 22 - 30o C
  • Jenis tanah yang paling baik, jenis lempung berpasir, subur, kaya bahan organik, aerasi dan drainase baik dan pH antara 6,8-7,3
  • Sinar matahari harus cukup
  • Cocok ditanam musim kemarau


PEMBIBITAN

bibit terong organik nasa
  • Rendamlah benih dalam air hangat kuku + POC NASA dosis 2 cc per liter selama 10 -15 menit
  • Bungkuslah benih dalam gulungan kain basah untuk diperam selama + 24 jam hingga nampak mulai berkecambah
  • Sebarkan benih di atas bedengan persemaian menurut barisan, jarak antar barisan 10-15 cm
  • Campurkan 1 pak Natural GLIO + 25-30 kg pupuk kandang halus diamkan seminggu, kemudian masukkan benih satu persatu ke polibag yang telah berisi campuran tanah dan pupuk kandang halus yang telah dicampur Natural GLIO tadi dengan perbandingan 2 : 1
  • Tutup benih tersebut dengan tanah tipis
  • Permukaan bedengan yang telah disemai benih ditutup dengan daun pisang
  • Setelah benih tampak berkecambah muncul, buka penutupnya
  • Siram persemaian pagi dan sore hari
  • Semprot POC NASA dosis 2-3 tutup per tangki setiap 7-10 hari sekali
  • Perhatikan serangan hama dan penyakit sejak di pembibitan
  • Bibit berumur 1-1,5 bulan atau berdaun empat helai siap dipindahtanamkan

bibit benih sahabat nasa


PENGOLAHAN LAHAN

  • Bersihkan rumput liar (gulma) dari sekitar kebun.
  • Olah tanah dengan cangkul ataupun bajak sedalam 30-40 cm hingga gembur.
  • Buat bedengan selebar 100-120 cm, jarak antar bedengan 40-60 cm, ratakan permukaan bedengan.
  • Jika pH tanah rendah, tambahkan Dolomit.
  • Sebarkan pupuk kandang 15-20 ton / ha, campurkan merata dengan tanah.
  • Akan lebih optimal jika ditambah SUPERNASA atau jika tidak ada pupuk kandang dapat diganti SUPERNASA 10-20 botol / ha dengan cara :
    • Alternatif 1 : satu botol SUPERNASA diencerkan dalam 3 lt air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk untuk menyiram bedengan.
    • Alternatif 2 : setiap 1 gembor volume 10 liter air diberi 1 sendok peres makan SUPERNASA untuk menyiram + 10 m bedengan.
  • Sebarkan pupuk dasar dengan campuran ZA atau Urea 150 kg + TSP 250 kg per ha dicampur dengan tanah secara merata atau sekitar 10 gr campuran pupuk per lubang tanam.
  • Sebarkan Natural GLIO 1-2 sachet yang telah dicampur pupuk kandang 25-50 kg merata ke bedengan atau ke lubang tanam.
  • Jika pakai Mulsa plastic, tutup bedengan pada siang hari.
  • Biarkan selama seminggu sebelum tanam.
  • Buat lubang tanam dengan jarak 60 x 70 cm / 70 x 70 cm.

PENANAMAN

jarak tanam terong

  • Waktu tanam yang baik musim kering
  • Pilih bibit yang tumbuh subur dan normal
  • Tanam bibit di lubang tanam secara tegak lalu tanah di sekitar batang dipadatkan
  • Siram lubang tanam yang telah ditanami hingga cukup basah (lembab)


PENGAIRAN

Dilakukan rutin tiap hari, terutama pada fase awal pertumbuhan dan cuaca kering, dapat di-leb atau disiram dengan gembor.

PENYULAMAN

  • Sulam tanaman yang pertumbuhannya tidak normal, mati atau terserang hama penyakit.
  • Penyulaman maksimal umur 15 hari.

PEMASANGAN AJIR (TURUS)

  • Lakukan seawal mungkin agar tidak mengganggu (merusak) sistem perakaran.
  • Turus terbuat dari bilah bambu setinggi 80-100 cm dan lebar 2-4 cm
  • Tancapkan secara individu dekat batang.
  • Ikat batang atau cabang terong pada turus.

PENYIANGAN

  • Rumput liar atau gulma di sekitar tanaman disiangi atau dicabut
  • Penyiangan dilakukan pada umur 15 hari dan 60-75 hari setelah tanam.

PEMUPUKAN

pupuk organik terong

Jenis dan Dosis Pupuk Makro disesuaikan dengan jenis tanah, varietas dan kondisi daerah menurut acuan dinas pertanian setempat. Berikut salah satu alternatif :


Jenis Pupuk

Pemupukan Susulan (kg/ha)
Umur 15 hari
Umur 25 hari
Umur 35 hari
Umur 45 hari
Urea
75
75
75
75
SP-36
50
-
-
-
KCl
-
75
100
75

Pemupukan diletakan sejauh 20 cm dari batang tanaman sebanyak 10 gram campuran pupuk per tanaman secara tugal atau larikan ditutup tanah dan disiram atau pupuk dikocorkan sebanyak 3,5 gram per liter air, kocorkan larutan pupuk sebanyak 250 cc per tanaman.

Semprotkan 3-4 tutup POC NASA + 1 tutup HORMONIK per tangki setiap 1-2 minggu sekali

PEMANGKASAN ( PEREMPELAN )

Pangkas tunas-tunas liar yang tumbuh mulai dari ketiak daun pertama hingga bunga pertama juga dirempel untuk merangsang agar tunas-tunas baru dan bunga yang lebih produktif segera tumbuh.


PENGENDALIAN HAMA PENYAKIT

H A M A

1. Kumbang Daun (Epilachna spp.)

  • Gejala serangan adanya bekas gigitan pada permukaan daun sebelah bawah
  • Bila serangan berat dapat merusak semua jaringan daun dan tinggal tulang-tulang daun saja
  • Cara pengendalian; kumpulkan dan musnahkan kumbang, atur waktu tanam, pencegahan dengan PESTONA atau PENTANA + AERO 810 setiap 1-2 minggu sekali.

2. Kutu Daun (Aphis spp.)

  • Menyerang dengan cara mengisap cairan sel, terutama pada bagian pucuk atau daun-daun masih muda
  • Daun tidak normal, keriput atau keriting atau menggulung
  • Sebagai vektor atau perantara virus
  • Cara pengendalian; mengatur waktu tanam dan pergiliran tanaman, pencegahan semprot PENTANA + AERO 810 atau Natural BVR setiap 1-2 minggu sekali.

3.Tungau ( Tetranynichus spp.)

  • Serangan hebat musim kemarau.
  • Menyerang dengan cara mengisap cairan sel tanaman, sehingga menimbulkan gejala bintik-bintik merah sampai kecoklat-coklatan atau hitam pada permukaan daun sebelah atas ataupun bawah.
  • Cara pengendalian sama seperti pada pengen dalian kutu daun.

4. Ulat Tanah ( Agrotis ipsilon Hufn.)

  • Bersifat polifag, aktif senja atau malam hari
  • Menyerang dengan cara memotong titik tumbuh tanaman yang masih muda, sehingga terkulai dan roboh
  • Cara pengendalian; kumpulkan dan musnahkan ulat, pencegahan siram atau semprotkan PESTONA atau PENTANA + AERO 810.

5.Ulat Grayak (Spodoptera litura, F.)

  • Bersifat polifag.
  • Menyerang dengan cara merusak (memakan) daun hingga berlubang-lubang.
  • Cara pengendalian; mengatur waktu tanam dan pergiliran tanaman, semprot dengan Natural VITURA.

6.Ulat Buah ( Helicoverpa armigera Hubn.)

  • Bersifat polifag, menyerang buah dengan cara menggigit dan melubanginya, sehingga bentuk buah tidak normal, dan mudah terserang penyakit busuk buah.
  • Cara pengendalian; kumpulkan dan musnahkan buah terserang, lakukan pergiliran tanaman dan waktu tanam sanitasi kebun, pencegahan semprotkan PESTONA atau PENTANA + AERO 810 setiap 1-2 minggu sekali

PENYAKIT

1. Layu Bakteri

  • Penyebab : bakteri Pseudomonas solanacearum
  • Bisa hidup lama dalam tanah
  • Serangan hebat pada temperatur cukup tinggi
  • Gejala serangan terjadi kelayuan seluruh tanaman secara mendadak

2. Busuk Buah

  • Penyebab : jamur Phytophthora sp., Phomopsis vexans, Phytium sp.
  • Gejala serangan adanya bercak-bercak coklat kebasahan pada buah sehingga buah busuk.

3. Bercak Daun

  • Penyebab : jamur Cercospora sp, Alternaria solani, Botrytis cinerea
  • Gejala bercak-bercak kelabu-kecoklatan atau hitam pada daun.

4. Antraknose

  • Penyebab : jamur Gloesporium melongena
  • Gejala bercak-bercak melekuk dan bulat pada buah lalu membesar berwarna coklat dengan titik-titik hitam

5. Busuk Leher akar

  • Penyebab ; Sclerotium rolfsii
  • Gejala pangkal batang membusuk berwarna coklat

6. Rebah Semai

  • Penyebab : Jamur Rhizoctonia solani dan Pythium spp.
  • Gejala batang bibit muda kebasah-basahan, mengkerut dan akhirnya roboh dan mati
  • Cara pengendalian Penyakit:
  • Tanam varietas tahan, atur jarak tanam dan pergiliran tanaman, perbaikan drainase, atur kelembaban dengan jarak tanam agak lebar, cabut dan buang tanaman sakit Rendam benih dengan POC NASA dosis 2 cc / lt + Natural GLIO dosis 1 gr/lt, Pencegahan sebarkan Natural GLIO yang telah dicampur pupuk kandang sebelum tanam ke lubang tanam.


Catatan : Jika pengendalian hama dan penyakit dengan pestisida alami belum mengatasi, sebagai alternative terakhir bisa digunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata Pembasah AERO 810 dosis 0,5 tutup botol per tangki.


PEMANENAN

panen terong organik nasa

  • Buah pertama dapat dipetik setelah umur 3-4 bulan tergantung dari jenis varietas
  • Ciri-ciri buah siap panen adalah ukurannya telah maksimum dan masih muda.
  • Waktu yang paling tepat pagi atau sore hari.
  • Cara panen buah dipetik bersama tangkainya dengan tangan atau alat yang tajam.
  • Pemetikan buah berikutnya dilakukan rutin tiap 3-7 hari sekali dengan cara memilih buah yang sudah siap dipetik.

    Info & order:
    STOCKIST AB. 790 & Distributor Resmi NASA N-390589
    Pin BB   : 555DC295
    Whatsapp : +62821-6767-4774
    sms/telp : 0823-0460-3288

BUDIDAYA KENTANG

Posted by PT. NASA Natural nusantara On 17.18

BUDIDAYA KENTANG ORGANIK
MENGGUNAKAN TEKNOLOGI ORGANIK NASA

Budidaya kentang organik dengan menerapkan teknologi organik NASA dari PT. Natural Nusantara .

budidaya kentang organik nasa
PENDAHULUAN

Kentang (Solanum tuberosum L) merupakan sumber utama karbohidrat, sehingga menjadi komoditi penting.

PT. NATURAL NUSANTARA berupaya meningkatkan produksi kentang nasional secara kuantitas, kualitas dan tetap berdasarkan kelestarian lingkungan (Aspek 3K).

SYARAT PERTUMBUHAN

1. Iklim

Curah hujan rata-rata 1500 mm/tahun, lama penyinaran 9-10 jam/hari, suhu optimal 18-21 °C, kelembaban 80-90% dan ketinggian antara 1.000-3.000 m dpl.

2. Media Tanam

Struktur remah, gembur, banyak mengandung bahan organik, berdrainase baik dan memiliki lapisan olah yang dalam dan pH antara 5,8-7,0.

PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA

Pembibitan

  • Umbi bibit berasal dari umbi produksi berbobot 30-50 gram, umur 150-180 hari, tidak cacat, dan varitas unggul.
  • Pilih umbi berukuran sedang, memiliki 3-5 mata tunas dan hanya sampai generasi keempat saja. Setelah tunas + 2 cm, siap ditanam.
  • Bila bibit membeli (usahakan bibit yang bersertifikat), berat antara 30-45 gram dengan 3-5 mata tunas.
  • Penanaman dapat dilakukan tanpa/dengan pembelahan.
  • Pemotongan umbi dilakukan menjadi 2-4 potong menurut mata tunas yang ada.
  • Sebelum tanam umbi direndam dulu menggunakan POC NASA selama 1-3 jam (2-4 cc/lt air).

Pengolahan Media Tanam

  • Lahan dibajak sedalam 30-40 cm dan biarkan selama 2 minggu sebelum dibuat bedengan dengan lebar 70 cm (1 jalur tanaman)/140 cm (2 jalur tanaman), tinggi 30 cm dan buat saluran pembuangan air sedalam 50 cm dan lebar 50 cm.

  • Natural Glio yang sudah terlebih dahulu dikembangbiakkan dalam pupuk kandang + 1 minggu, ditebarkan merata pada bedengan (dosis : 1-2 kemasan Natural Glio dicampur 50-100 kg pupuk kandang/1000 m2).


Teknik Penanaman

Pemupukan Dasar

    • Pupuk anorganik berupa urea (200 kg/ha), SP 36 (200 kg/ha), dan KCl (75 kg/ha).
    • Siramkan pupuk POC NASA yang telah dicampur air secukupnya secara merata di atas bedengan, dosis 1-2 botol/ 1000 m².
    • Hasil akan lebih bagus jika menggunakan SUPER NASA dengan cara :

      • Alternatif 1 : Satu botol Super Nasa diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.

      • Alternatif 2 : setiap 1 gembor vol 10 lt diberi 1 peres sendok makan Super Nasa untuk menyiram 10 meter bedengan. Penyiraman POC NASA / SUPER NASA dilakukan sebelum pemberian pupuk kandang.

      • Berikan pupuk kandang 5-6 ton/ha (dicampur pada tanah bedengan atau diberikan pada lubang tanam) satu minggu sebelum tanam,

Cara Penanaman

Jarak tanaman tergantung varietas, 80 cm x 40 cm atau 70 x 30 cm dengan kebutuhan bibit + 1.300-1.700 kg/ha (bobot umbi 30-45 gr). Waktu tanam diakhir musim hujan (April-Juni).

Pemeliharaan Tanaman

  • Penyulaman, Penyulaman untuk mengganti tanaman yang tidak tumbuh/tumbuhnya jelek dilakukan 15 hari semenjak tumbuh.
  • Penyiangan, Penyiangan dilakukan minimal dua kali selama masa penanaman 2-3 hari sebelum/bersamaan dengan pemupukan susulan dan penggemburan.
  • Pemangkasan Bunga, Pada varietas kentang yang berbunga sebaiknya dipangkas untuk mencegah terganggunya proses pembentukan umbi, karena terjadi perebutan unsur hara.
  • Pemupukan Susulan
a. Pupuk Makro
        • Urea/ZA : 21 hari setelah tanam (hst) 300 kg/ha dan 45 hst 150 kg/ha.
        • SP-36 : 21 hst 250 kg/ha.
        • KCl : 21 hst 150 kg/ha dan 45 hst 75 kg/ha.
        • Pupuk makro diberikan jarak 10 cm dari batang tanaman.
b. POC NASA
        • mulai umur 1 minggu s/d 10 atau 11 minggu.
        • Alternatif I : 8-10 kali (interval 1 minggu sekali dengan dosis 4 tutup/tangki atau 1 botol (500 cc)/ drum 200 lt air.
        • Alternatif II : 5 - 6 kali (interval 2 mingu sekali dengan dosis 6 tutup/tangki atau 1,5 botol (750 cc)/ drum 200 lt air.
c. HORMONIK
        • penyemprotan POC NASA akan lebih optimal jika dicampur HORMONIK (dosis 1-2 tutup/tangki atau + 2-3 botol/drum 200 liter air).

  • Pengairan
Pengairan 7 hari sekali secara rutin dengan di gembor, Power Sprayer atau dengan mengairi selokan sampai areal lembab (sekitar 15-20 menit).

teknis budidaya tanaman kentang organik nasa natural nusantara


Hama dan Penyakit

Hama

  • Ulat grayak (Spodoptera litura)
    • Gejala: ulat menyerang daun hingga habis daunnya.
    • Pengendalian:
      • (1) memangkas daun yang telah ditempeli telur;
      • (2) penyemprotan Natural Vitura dan sanitasi lingkungan.

  • Kutu daun (Aphis Sp)
    • Gejala: kutu daun menghisap cairan dan menginfeksi tanaman, juga dapat menularkan virus.
    • Pengendalian: memotong dan membakar daun yang terinfeksi, serta penyemprotan Pestona atau BVR.

  • Orong-orong (Gryllotalpa Sp)
    • Gejala: menyerang umbi di kebun, akar, tunas muda dan tanaman muda. Akibatnya tanaman menjadi peka terhadap infeksi bakteri.
    • Pengendalian: Pengocoran Pestona.

  • Hama penggerek umbi (Phtorimae poerculella Zael)
    • Gejala: daun berwarna merah tua dan terlihat jalinan seperti benang berwarna kelabu yang merupakan materi pembungkus ulat. Umbi yang terserang bila dibelah, terlihat lubang-lubang karena sebagian umbi telah dimakan.
    • Pengendalian : Pengocoran Pestona.

  • Hama trip ( Thrips tabaci )
    • Gejala: pada daun terdapat bercak-bercak berwarna putih, berubah menjadi abu-abu perak dan mengering. Serangan dimulai dari ujung-ujung daun yang masih muda.
    • Pengendalian:
      • (1) memangkas bagian daun yang terserang;
      • (2) mengunakan Pestona atau BVR.

 Penyakit

  • Penyakit busuk daun
    • Penyebab: jamur Phytopthora infestans. 
    • Gejala: timbul bercak-bercak kecil berwarna hijau kelabu dan agak basah hingga warnanya berubah menjadi coklat sampai hitam dengan bagian tepi berwarna putih yang merupakan sporangium dan daun membusuk/mati.
    • Pengendalian: sanitasi kebun. Pencegahan dengan penggunaan Natural Glio pada sebelum atau awal tanam.
  • Penyakit layu bakteri
    • Penyebab: bakteri Pseudomonas solanacearum. Gejala: beberapa daun muda pada pucuk tanaman layu dan daun tua, daun bagian bawah menguning.
    • Pengendalian: sanitasi kebun, pergiliran tanaman. Pencegahan dengan penggunaan Natural Glio pada sebelum atau awal tanam.

  • Penyakit busuk umbi
    • Penyebab: jamur Colleotrichum coccodes. 
    • Gejala: daun menguning dan menggulung, lalu layu dan kering. Bagian tanaman yang berada dalam tanah terdapat bercak-bercak berwarna coklat. Infeksi akan menyebabkan akar dan umbi muda busuk.
    • Pengendalian: pergiliran tanaman , sanitasi kebun dan penggunaan bibit yang baik. Pencegahan dengan penggunaan Natural Glio pada sebelum atau awal tanam

  • Penyakit fusarium
    • Penyebab: jamur Fusarium sp. 
    • Gejala: busuk umbi yang menyebabkan tanaman layu. Penyakit ini juga menyerang kentang di gudang penyimpanan. Infeksi masuk melalui luka-luka yang disebabkan nematoda/faktor mekanis. 
    • Pengendalian: menghindari terjadinya luka pada saat penyiangan dan pendangiran. Pencegahan dengan penggunaan Natural Glio pada sebelum atau awal tanam.

  • Penyakit bercak kering (Early Blight)
    • Penyebab: jamur Alternaria solani. Jamur hidup disisa tanaman sakit dan berkembang di daerah kering. 
    • Gejala: daun berbercak kecil tersebar tidak teratur, warna coklat tua, meluas ke daun muda. Permukaan kulit umbi berbercak gelap tidak beraturan, kering, berkerut dan keras.
    • Pengendalian: pergiliran tanaman. Pencegahan : Natural Glio sebelum/awal tanam

  • Penyakit karena virus
    • Virus yang menyerang adalah:
      • (1) Potato Leaf Roll Virus (PLRV) menyebabkan daun menggulung;
      • (2) Potato Virus X (PVX) menyebabkan mosaik laten pada daun;
      • (3) Potato Virus Y (PVY) menyebabkan mosaik atau nekrosis lokal;
      • (4) Potato Virus A (PVA) menyebabkan mosaik lunak;
      • (5) Potato Virus M (PVM) menyebabkan mosaik menggulung;
      • (6) Potato Virus S (PVS) menyebabkan mosaik lemas.
    • Gejala: akibat serangan, tanaman tumbuh kerdil, lurus dan pucat dengan umbi kecil-kecil/tidak menghasilkan sama sekali; daun menguning dan jaringan mati. Penyebaran virus dilakukan oleh peralatan pertanian, kutu daun Aphis spiraecola, A. gossypii dan Myzus persicae, kumbang Epilachna dan Coccinella dan nematoda.
    • Pengendalian: tidak ada pestisida untuk mengendalikan virus, pencegahan dan pengendalian dilakukan dengan menanam bibit bebas virus, membersihkan peralatan, memangkas dan membakar tanaman sakit, mengendalikan vektor dengan Pestona atau BVR dan melakukan pergiliran tanaman.
Catatan :

Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki.

Panen

panduan-cara-budidaya-tanaman-kentang-natural-nusantara-distributor-resmi-pupuk-organik-nasa-pocnasa-hormonik-supernasa-pentana-pestona-power-nutrition-bvr-glio

Umur panen pada tanaman kentang berkisar antara 90-180 hari, tergantung varietas tanaman. Secara fisik tanaman kentang sudah dapat dipanen jika daunnya telah berwarna kekuning-kuningan yang bukan disebabkan serangan penyakit; batang tanaman telah berwarna kekuningan (agak mengering) dan kulit umbi akan lekat sekali dengan daging umbi, kulit tidak cepat mengelupas bila digosok dengan jari.




Info & order:
STOCKIST AB. 790 & Distributor Resmi NASA N-390589
Pin BB   : 555DC295
Whatsapp : +62821-6767-4774
sms/telp : 0823-0460-3288

BUDIDAYA MELON

Posted by PT. NASA Natural nusantara On 17.15

BUDIDAYA MELON ORGANIK
MENGGUNAKAN TEKNOLOGI ORGANIK NASA

Artikel Budidaya Kentang secara organik dengan menerapkan teknologi Organik dari PT. Natural Nusantara ( NASA ).


budidaya melon organik nasa

I. PENDAHULUAN

Agribisnis melon menunjukkan prospek menjanjikan. Tetapi jika faktor tanah yang semakin keras, miskin unsur hara terutama unsur hara mikro dan hormon alami, faktor iklim dan cuaca, faktor hama dan penyakit tanaman serta faktor pemeliharaan tidak diperhatikan maka keuntungan akan menurun.

PT. Natural Nusantara berusaha membantu meningkatkan produktivitas melon secara Kuantitas, Kualitas, dan Kelestarian lingkungan ( Aspek K-3 ).

II. SYARAT PERTUMBUHAN

1. Iklim

Perlu penyinaran matahari penuh selama pertumbuhannya. Pada kelembaban yang tinggi tanaman melon mudah diserang penyakit. Suhu optimal antara 25-300C. Angin yang bertiup cukup keras dapat merusak pertanaman melon. Hujan terus menerus akan merugikan tanaman melon. Tumbuh baik pada ketinggian 300-900 m dpl.

2. Media Tanam

  • Tanah yang baik ialah tanah liat berpasir yang banyak mengandung bahan organik seperti andosol, latosol, regosol, dan grumosol, asalkan kekurangan dari sifat-sifat tanah tersebut dapat dimanipulasi dengan pengapuran, penambahan bahan organik, maupun pemupukan.
  • Tanaman melon tidak menyukai tanah yang terlalu basah, pH tanah 5,8-7,2.


III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA

1. Pembibitan

1.1. Pembuatan Media Semai
  • Siapkan Natural GLIO : 1-2 kemasan Natural GLIO dicampur dengan 50-100 kg pupuk kandang untuk lahan 1000 m2. Selanjutnya didiamkan + 1 minggu di tempat yang teduh dengan selalu menjaga kelembabannya dan sesekali diaduk (dibalik).
  • Campurkan tanah halus (diayak) 2 bagian/2 ember (volume 10 lt), pupuk kandang matang yang telah diayak halus sebanyak 1 bagian/1 ember, TSP (± 50 gr) yang dilarutkan dalam 2 tutup POC NASA, dan Natural GLIO yang sudah dikembangbiakkan dalam pupuk kandang 1-2 kg . Masukkan media semai ke dalam polybag ukuran 8x10 cm sampai terisi hingga 90%.

1.2. Teknik Penyemaian dan Pemeliharaan Bibit

  • Rendam benih dalam 1 liter air hangat suhu 20-250C + 1 tutup POC NASA selama 8-12 jam lalu diperam + 48 jam.
  • Selanjutnya disemai dalam polybag, sedalam 1-1,5 cm.
  • Benih disemaikan dalam posisi tegak dan ujung calon akarnya menghadap ke bawah.
  • Benih ditutup dengan campuran abu sekam dan tanah dengan perbandingan 2:1.
  • Kantong persemaian diletakkan berderet agar terkena sinar matahari penuh sejak terbit hingga tenggelam. Diberi perlindungan plastik transparan yang salah satu ujungnya terbuka.
  • Semprotkan POC NASA untuk memacu perkembangan bibit, pada umur bibit 7-9 hari dengan dosis 1,0-1,5 cc/liter. Penyiraman dilakukan dengan hati-hati secara rutin setiap pagi.
  • Bibit melon yang sudah berdaun 4-5 helai atau tanaman melon telah berusia 10-12 hari dapat dipindahtanamkan dengan cara kantong plastik polibag dibuka hati-hati lalu bibit berikut tanahnya ditanam pada bedengan yang sudah dilubangi sebelumnya, bedengan jangan sampai kekurangan air.


2. Pengolahan Media Tanam

2.1. Pembukaan Lahan
  • Sebelum dibajak digenangi air lebih dahulu semalam, kemudian keesokan harinya dilakukan pembajakan dengan kedalaman sekitar 30 cm.
  • Setelah itu dilakukan pengeringan, baru dihaluskan.

2.2. Pembentukan Bedengan

  • Panjang bedengan maksimum 12-15 m;
  • tinggi bedengan 30-50 cm;
  • lebar bedengan 100-110 cm; dan
  • lebar parit 55-65 cm.

2.3. Pengapuran

  • Penggunaan kapur per 1000 m2 pada pH tanah 4-5 diperlukan 150-200 kg dolomit ,
  • untuk antara pH 5-6 dibutuhkan 75-150 kg dolomit dan pH >6 dibutuhkan dolomit sebanyak 50 kg.

2.4. Pemupukan Dasar


Pupuk
Kandang
(ton/ ha)

Dosis Pupuk Makro 
( gram/ pohon )

Dosis POC NASA

Urea

SP36

KCl

4-5

12

20

8

30-60 tutup /1000 m2
+ air secukupnya (siramkan)

pemasangan ajir pada tanaman melon


Hasil akan lebih baik jika pada pemupukan dasar, POC NASA diganti SUPER NASA yang telah dicampur air secara merata di atas bedengan dengan dosis 1-2 botol/1000 m2 dengan cara :
  • Alternatif 1 : 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.
  • Alternatif 2 : setiap 1 gembor vol 10 lt diberi 1 peres sendok makan SUPER NASA untuk menyiram + 10 meter bedengan.

2.5. Pemberian Natural GLIO

  • Untuk mencegah serangan penyakit karena jamur terutama penyakit layu, sebaiknya tebarkan Natural GLIO yang sudah disiapkan sebelum persemaian.
  • Dosis 1-2 kemasan per 1000 m2

2.6. Pemasangan Mulsa Plastik Hitam-Perak (PHP)

  • Pemasangan mulsa sebaiknya saat matahari terik agar mulsa dapat memuai sehingga menutup bedengan dengan tepat.
  • Biarkan bedengan tertutup mulsa 3-5 hari sebelum dibuat lubang tanam.


3. Teknik Penanaman

3.1. Pembuatan Lubang Tanam
  • Diameter lubang + 10 cm, jarak lubang 60-80 cm.
  • Model penanaman dapat berupa dua baris berhadap-hadapan membentuk segiempat atau segitiga.
3.2. Cara Penanaman
  • Bibit siap tanam dipindahkan beserta medianya.
  • Usahakan akar tanaman tidak sampai rusak saat menyobek polibag.


4. Pemeliharaan Tanaman

4.1. Penyulaman
  • Penyulaman dilakukan 3-5 hari setelah tanam.
  • Setelah selesai penyulaman tanaman baru harus disiram air.
  • Sebaiknya penyulaman dilakukan sore hari.
4.2. Penyiangan
Penyiangan dilakukan untuk membersihkan gulma/ rumput liar.

4.3. Perempelan
Perempelan dilakukan terhadap tunas/cabang air yang bukan merupakan cabang utama.

4.4. Pemupukan

Waktu

Dosis Pupuk Makro ( gram/ pohon )

Urea

SP-36

KCl
Umur 10 hari
12
12
10
Umur 20 hari
12
12
10
Umur 30 hari
12
8
12
Umur 40 hari
12
8
20
POC NASA :
( per ha )
Mulai umur 1 minggu – 6 atau 7 minggu
POC NASA disemprotkan ke tanaman : 
  • Alternatif 1 : 6-7 kali ( interval 1 minggu sekali) dgn dosis 4 tutup botol/ tangki
  • Alternatif 2 : 4 kali (interval 2 minggu sekali ) dgn dosis 6 tutup botol/ tangki


4.5. Penggunaan Hormonik
  • Dosis HORMONIK : 1-2 cc/lt air atau 1-2 tutup HORMONIK + 3-5 tutup POC NASA setiap tangki semprot.
  • Penyemprotan HORMONIK mulai usia 3-11 minggu, interval 7 hari sekali.


4.6. Penyiraman
Penyiraman sejak masa pertumbuhan tanaman, sampai akan dipetik buahnya kecuali hujan. Saat menyiram jangan sampai air siraman membasahi daun dan air dari tanah jangan terkena daun dan buahnya. Penyiraman dilakukan pagi-pagi sekali.

petani melon organik nasa


4.7. Pemeliharaan Lain
a. Pemasangan Ajir
  • Ajir dipasang sesudah bibit mengeluarkan sulur-sulurnya.
  • Tinggi ajir + 150 - 200 cm.
  • Ajir terbuat dari bahan yang kuat sehingga mampu menahan beban buah + 2-3 kg.
  • Tempat ditancapkannya ajir + 25 cm dari pinggir guludan baik kanan maupun kiri.
  • Supaya ajir lebih kokoh bisa menambahkan bambu panjang yang diletakkan di bagian pucuk segitiga antara bambu atau kayu yang menyilang, mengikuti barisan ajir-ajir di belakangnya.

b. Pemangkasan
  • Pemangkasan dilakukan pada tanaman melon bertujuan untuk memelihara cabang sesuai dengan yang dikehendaki.
  • Tinggi tanaman dibuat rata-rata antara titik ke-20 sampai ke-25 (bagian ruas, cabang atau buku dari tanaman tersebut).
  • Pemangkasan dilakukan kalau udara cerah dan kering, supaya bekas luka tidak diserang jamur.
  • Waktu pemangkasan dilakukan setiap 10 hari sekali, yang paling awal dipangkas adalah cabang yang dekat dengan tanah dan sisakan dua helai daun, kemudian cabang-cabang yang tumbuh dipangkas dengan menyisakan 2 helai daun.
  • Pemangkasan dihentikan, jika ketinggian tanamannya sudah mencapai pada cabang ke-20 atau 25.

5. Hama dan Penyakit

5.1. Hama

a. Kutu Aphis (Aphis gossypii Glover )
  • Ciri: mempunyai getah cairan yang mengandung madu dan di lihat dari kejauhan mengkilap. Aphis muda berwarna kuning, sedangkan yang dewasa mempunyai sayap dan berwarna agak kehitaman.
  • Gejala: daun tanaman menggulung, pucuk tanaman menjadi kering akibat cairan daun dihisap hama.
  • Pengendalian:
    • (1) gulma selalu dibersihkan agar tidak menjadi inang hama;
    • (2) semprot Pestona atau Natural BVR.
b. Thrips (Thrips parvispinus Karny)
  • Ciri: menyerang saat fase pembibitan sampai tanaman dewasa. Nimfa berwarna kekuning-kuningan dan dewasa berwarna coklat kehitaman. Serangan dilakukan di musim kemarau.
  • Gejala: daun muda atau tunas baru menjadi keriting, dan bercak kekuningan; tanaman keriting dan kerdil serta tidak dapat membentuk buah secara normal. Gejala ini harus diwaspadai karena telah tertular virus yang dibawa hama thrips.
  • Pengendalian: menyemprot dengan Pestona atau Natural BVR.

5.2. Penyakita. Layu Bakteri

  • Penyebab: bakteri Erwina tracheiphila E.F.Sm. Penyakit ini dapat disebarkan dengan perantara kumbang daun oteng-oteng (Aulacophora femoralis Motschulsky).
  • Gejala: daun dan cabang layu, terjadi pengerutan pada daun, warna daun menguning, mengering dan akhirnya mati; daun tanaman layu satu per satu, meskipun warnanya tetap hijau. Apabila batang tanaman yang dipotong melintang akan mengeluarkan lendir putih kental dan lengket bahkan dapat ditarik seperti benang.
  • Pengendalian: penggunaan Natural GLIO sebelum tanam.
b. Penyakit Busuk Pangkal Batang (gummy stem bligt)
  • Penyebab: Cendawan Mycophaerekka melonis (Passerini) Chiu et Walker.
  • Gejala: pangkal batang seperti tercelup minyak kemudian keluar lendir berwarna merah coklat dan kemudian tanaman layu dan mati; daun yang terserang akan mengering.
  • Pengendalian:
    • (1) penggunaan mulsa PHP untuk mencegah kelembaban di sekitar pangkal batang dan mencegah luka di perakaran maupun pangkal batang karena penyiangan;
    • (2) daun yang terserang dibersihkan.
    • (3) gunakan Natural GLIO sebelum tanam sebagai pencegahan.
Catatan:

Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki.

5.3. Gulma

Gulma (tumbuhan pengganggu) merugikan tanaman, karena bersaing zat hara, tempat tumbuh dan cahaya. Pencabutan gulma harus dilakukan sejak tumbuhan masih kecil, karena jika sudah besar akan merusak perakaran tanaman melon.

6. Panen

6.1. Ciri dan Umur Panen

  • a. Tanda/Ciri Penampilan Tanaman Siap Panen.
    • Ukuran buah sesuai dengan ukuran normal
    • Jala/Net pada kulit buah sangat nyata/kasar
    • Warna kulit hijau kekuningan.
  • b. Umur Panen + 3 bulan setelah tanam.
  • c. Waktu Pemanenan yang baik adalah pada pagi hari.

6.2. Cara Panen

  • Potong tangkai buah melon dengan pisau, sisakan minimal 2,0 cm untuk memperpanjang masa simpan buah.
  • Tangkai dipotong berbentuk huruf "T" , maksudnya agar tangkai buah utuh.
  • Pemanenan dilakukan secara bertahap, dengan mengutamakan buah yang benar-benar telah siap dipanen.
  • Buah yang telah dipanen disortir.
  • Kerusakan buah akibat terbentur/cacat fisik lainnya, sebaiknya dihindari karena akan mengurangi harga jual.

6.3. Penyimpanan


penyimpanan melon

Buah melon tidak boleh ditumpuk, yang belum terangkut disimpan dalam gudang. Buah ditata rapi dengan dilapisi jerami kering. Tempat penyimpanan harus bersih dan kering.


Info & order:
STOCKIST AB. 790 & Distributor Resmi NASA N-390589
Pin BB   : 555DC295
Whatsapp : +62821-6767-4774
sms/telp : 0823-0460-3288

BUDIDAYA SEMANGKA

Posted by PT. NASA Natural nusantara On 17.11

BUDIDAYA SEMANGKA ORGANIK
MENGGUNAKAN TEKNOLOGI ORGANIK NASA

Budidaya Semangka secara organik dengan menerapkan teknologi organik dari PT. Natural Nusantara ( NASA ). 


budidaya semangka organik nasa

I. PENDAHULUAN

Tingkat dan kualitas produksi semangka di Indonesia masih tergolong rendah. Hal ini disebabkan antara lain karena tanah yang keras, miskin unsur hara dan hormon, pemupukan yang tidak berimbang, serangan hama dan penyakit tanaman, pengaruh cuaca /iklim, serta teknis budidaya petani.

PT. Natural Nusantara berupaya membantu petani dalam peningkatan produksi secara Kuantitas dan Kualitas dengan tetap memelihara Kelestarian lingkungan (Aspek K-3).


II. SYARAT PERTUMBUHAN

1. Iklim

  • Curah hujan ideal 40-50 mm/bulan.
  • Seluruh areal pertanaman perlu sinar matahari sejak terbit sampai tenggelam.
  • Suhu optimal ± 250 C.
  • Semangka cocok ditanam di dataran rendah hingga ketinggian 600 m dpl.

2. Media Tanam

  • Kondisi tanah cukup gembur, kaya bahan organik, bukan tanah asam dan tanah kebun/persawahan yang telah dikeringkan.
  • Cocok pada jenis tanah geluh berpasir.
  • Keasaman tanah (pH) 6 - 6,7.


III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA

1. Pembibitan

1.1. Penyiapan Media Semai
  • Siapkan Natural GLIO : 1-2 kemasan Natural GLIO dicampur dengan 25-50 kg pupuk kandang untuk lahan 1000 m2. Diamkan + 1 minggu di tempat teduh dengan selalu menjaga kelembabannya dan sesekali diaduk (dibalik).
  • Campurkan tanah halus (telah diayak) 2 bagian atau 2 ember (volume 10 lt), pupuk kandang matang yang telah diayak halus sebanyak 1 bagian atau 1 ember, TSP (± 50 gr) yang dilarutkan dalam 2 tutup POC NASA, dan Natural GLIO yang sudah dikembangbiakkan dalam pupuk kandang (1-3 kg) .
  • Masukkan media semai ke dalam polybag kecil 8x10 cm sampai terisi hingga 90%.
1.2. Teknik Perkecambahan Benih
  • Benih dimasukkan ke dalam kain lalu diikat, kemudian direndam dalam ramuan : 1 liter air hangat suhu 20-250C + 1 sendok POC NASA (direndam 8-12 jam).
  • Benih dalam ikatan diambil, dibungkus koran kemudian diperam 1-2 hari.
  • Jika ada yang berkecambah diambil untuk disemaikan dan jika kering tambah air dan dibungkus kain kemudian dimasukkan koran lagi.
1.3. Semai Benih dan Pemeliharaan Bibit
  • Media semai disiram air bersih secukupnya.
  • Benih terpilih yang calon akarnya sudah sepanjang 2-3 mm, langsung disemai dalam polybag sedalam 1-1,5 cm.
  • Kantong persemaian diletakkan berderet agar terkena sinar matahari penuh. Diberi perlindungan plastik transparan, salah satu ujung/pinggirnya terbuka.
  • Semprotkan POC NASA untuk memacu perkembangan bibit, dilakukan rutin setiap 3 - 4 hari sekali.
  • Penyiraman 1-2 kali sehari.
  • Pada umur 12-14 hari bibit siap ditanam.


2. Pengolahan Media Tanam

2.1. Pembukaan Lahan
  • Pembajakan sedalam + 30 cm, dihaluskan dan diratakan.
  • Bersihkan lahan dari sisa-sisa perakaran dan batu.
2.2. Pembentukan Bedengan
  • Lebar bedengan 6-8 m,
  • tinggi bedengan minimum 20 cm.
2.3. Pengapuran
Penggunaan kapur per 1000 m2 pada :
  • pH tanah 4-5 diperlukan 150-200 kg dolomit ,
  • pH 5-6 dibutuhkan 75-150 kg dolomit dan
  • pH >6 dibutuhkan dolomit sebanyak 50 kg.
2.4. Pemupukan Dasar
  • Pupuk kandang 600 kg/ha, diberikan pada permukaan bedengan kurang lebih seminggu sebelum tanam.
  • Pupuk anorganik berupa TSP (200 kg/ha), ZA (140 kg/ha) dan KCl (130 kg/ha).
  • Siramkan POC NASA yang telah dicampur air secukupnya diatas bedengan dengan dosis + 1-2 botol/1000 m2. Hasil akan lebih bagus jika POC NASA digantikan SUPER NASA, dosis 1-2 botol/1000 m2 dengan cara :
    • Alternatif 1 : Satu botol SUPER NASA diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.
    • Alternatif 2 : Setiap 1 gembor volume 10 lt diberi 1 peres sendok makan SUPER NASA untuk menyiram + 10 meter bedengan.
2.5. Lain-lain
  • Bedengan perlu disiangi, disiram dan diberi plastik mulsa dengan lebar 110-150 cm agar menghambat penguapan air dan tumbuhnya tanaman liar.
  • Di atas mulsa dilapisi jerami kering setebal 2-3 cm untuk perambatan semangka dan peletakan buah.


3. Teknik Penanaman

panen semangka organik

3.1. Pembuatan Lubang Tanaman
  • Dilakukan Satu minggu sebelum penanaman dengan kedalaman 8-10 cm.
  • Berjarak 20-30 cm dari tepi bedengan dengan jarak antara lubang sekitar 90-100 cm.
3.2. Waktu Penanaman
Penanaman sebaiknya pagi atau sore hari kemudian bibit disiram hingga cukup basah.


4. Pemeliharaan Tanaman

4.1. Penyulaman
Sebaiknya dilakukan 3 - 5 hari setelah tanam.

4.2. Penyiangan
  • Tanaman semangka cukup mempunyai dua buah saja, dengan pengaturan cabang primer yang cenderung banyak.
  • Dipelihara 2-3 cabang tanpa memotong ranting sekunder.
  • Perlu penyiangan pada ranting yang tidak berguna, ujung cabang sekunder dipangkas dan disisakan 2 helai daun.
  • Cabang sekunder yang tumbuh pada ruas yang ada buah dipotong karena mengganggu pertumbuhan buah.
4.3. Perempelan
Dilakukan perempelan tunas-tunas muda yang tidak berguna karena mempengaruhi pertumbuhan pohon/buah semangka yang sedang berkembang.

4.4. Pengairan dan Penyiraman
Pengairan melalui saluran diantara bedengan atau digembor dengan interval 4-6 hari. Volume pengairan tidak boleh berlebihan.

4.5. Pemupukan
Waktu
Dosis Pupuk Makro (kg/ ha)
ZA
TSP
KCl
Susulan I (3 hari)
40
-
40
Susulan II Daun 4-6 helai
120
85
80
Susulan III Batang 45–55 cm
170
-
30
Susulan IV Tanaman bunga
130

-


30
Susulan V Buah masih pentil
80
-
30
POC NASA ( per ha )
Mulai umur 1 minggu – 6 atau 7 minggu
POC NASA disemprotkan ke tanaman alternatif 1: 6-7 kali ( interval 1 minggu sekali) dgn dosis 4 tutup botol/ tangki
alternatif 2: 4 kali (interval 2 minggu sekali ) dgn dosis 6 tutup botol/ tangki


4.6. Waktu Penyemprotan HORMONIK
  • Semprotkan HORMONIK sejenis ZPT/hormon alami.
  • Dosis HORMONIK : 1-2 cc/lt air atau 1-2 tutup HORMONIK + 3-4 tutup POC NASA setiap tangki semprot.
  • Penyemprotan pada umur 21 - 70 hari, interval 7 hari sekali.

4.7. Pemeliharaan Lain
  • Pilih buah yang cukup besar, terletak antara 1,0-1,5 m dari perakaran tanaman, bentuk baik dan tidak cacat.
  • Setiap tanaman diperlukan calon buah 1-2 buah, sisanya di pangkas.
  • Semenjak calon buah ± 2 kg sering dibalik guna menghindari warna yang kurang baik akibat ketidakmerataan terkena sinar matahari.


5. Hama dan Penyakit

5.1 Hama
a. Thrips
  • Ciri : Berukuran kecil ramping, warna kuning pucat kehitaman, mempunyai sungut badan beruas-ruas.
  • Cara penularan secara mengembara dimalam hari, menetap dan berkembang biak.
  • Pengendalian: semprotkan Natural BVR atau Pestona.
b. Ulat Perusak Daun
  • Ciri : Berwarna hijau dengan garis hitam/berwarna hijau bergaris kuning, gejala : daun dimakan sampai tinggal lapisan lilinnya dan terlihat dari jauh seperti berlubang.
  • Pengendalian: dilakukan penyemprotan Natural Vitura atau Pestona.
c. Tungau
  • Bentuk binatang : Binatang kecil berwarna merah agak kekuningan/kehijauan berukuran kecil mengisap cairan tanaman.
  • Tandanya, tampak jaring-jaring sarang binatang ini di bawah permukaan daun, warna dedaunan akan pucat.
  • Pengendalian: semprot Natural BVR atau Pestona.
d. Ulat Tanah
  • Ciri : Berwarna hitam berbintik-bintik/bergaris-garis, panjang tubuh 2-5 cm, aktif merusak dan bergerak pada malam hari. Menyerang daun, terutama tunas-tunas muda, ulat dewasa memangsa pangkal tanaman.
  • Pengendalian:
    • (1) penanaman secara serempak pada daerah yang berdekatan untuk memutus siklus hidup hama dan pemberantasan sarang ngengat disekitarnya;
    • (2) pengendalian dengan penyemprotan Natural Vitura Virexi atau Pestona.
e. Lalat Buah
  • Ciri-ciri mempunyai sayap yang transparan berwarna kuning dengan bercak-bercak dan mempunyai belalai. Tanda-tanda serangan : terdapat bekas luka pada kulit buah (seperti tusukan belalai), daging buah beraroma sedikit masam dan terlihat memar.
  • Pengendalian : membersihkan lingkungan, tanah bekas hama dibalikan dengan dibajak/dicangkul, pemasangan perangkap lalat buah dan semprot Pestona.
5.2. Penyakit
a. Layu Fusarium
  • Penyebab: lingkungan/situasi yang memungkinkan tumbuh jamur (hawa yang terlalu lembab). Gejala: timbul kebusukan pada tanaman yang tadinya lebat dan subur.
  • Pengendalian:
    • (1) dengan pergiliran masa tanam dan menjaga kondisi lingkungan, menanam pada areal baru yang belum ditanami,
    • (2) pemberian Natural GLIO sebelum atau pada saat tanam.
b. Bercak Daun
  • Penyebab: spora bibit penyakit terbawa angin dari tanaman lain yang terserang.
  • Gejala: permukaan daun terdapat bercak-bercak kuning dan selanjutnya menjadi coklat akhirnya mengering dan mati, atau terdapat rumbai-rumbai halus berwarna abu-abu/ungu.
  • Pengendalian: seperti pada penyakit layu fusarium.
c. Antraknosa
  • Penyebab: seperti penyakit layu fusarium.
  • Gejala: daun terlihat bercak-bercak coklat yang akhirnya berubah warna kemerahan dan akhirnya daun mati. Bila menyerang buah, tampak bulatan berwarna merah jambu yang lama kelamaan semakin meluas.
  • Pengendalian: seperti pengendalian penyakit layu fusarium.
d. Busuk Semai
  • Menyerang pada benih yang sedang disemaikan.
  • Gejala: batang bibit berwarna coklat, merambat dan rebah kemudian mati.
  • Pengendalian: pemberian Natural GLIO sebelum penyemaian di media semai.
e. Busuk Buah
  • Penyebab: jamur/bakteri patogen yang menginfeksi buah menjelang masak dan aktif setelah buah mulai dipetik.
  • Pengendalian: hindari dan cegah terjadinya kerusakan kulit buah, baik selama pengangkutan maupun penyimpanan, pemetikan buah dilakukan pada waktu siang hari tidak berawan/hujan.

f. Karat Daun
  • Penyebab: virus yang terbawa oleh hama tanaman yang berkembang pada daun tanaman.
  • Gejala: daun melepuh, belang-belang, cenderung berubah bentuk, tanaman kerdil dan timbul rekahan membujur pada batang.
  • Pengendalian: sama seperti penyakit layu fusarium.
Catatan :

Jika pengendalian hama penyakit menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia. Agar penyemprotan pestisida kimia dapat merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810 dengan dosis + 5 ml ( 1/2 tutup)/tangki.


6. Panen

6.1. Ciri dan Umur Panen
  • Umur panen setelah 70-100 hari setelah penanaman.
  • Ciri-cirinya: terjadi perubahan warna buah, dan batang buah mulai mengecil maka buah tersebut bisa dipetik (dipanen).
6.2. Cara Panen

semangka organik nasa natural nusantara

  • Pemetikan buah sebaiknya dilakukan pada saat cuaca cerah sehingga buah dalam kondisi kering permukaan kulitnya, dan tahan selama dalam penyimpananan ataupun ditangan para pengecer.
  • Sebaiknya pemotongan buah semangka dilakukan beserta tangkainya.

Info & order:
STOCKIST AB. 790 & Distributor Resmi NASA N-390589
Pin BB   : 555DC295
Whatsapp : +62821-6767-4774
sms/telp : 0823-0460-3288