Kamis, 22 Oktober 2009

SISTEM PERTANIAN


ARAHAN PENGEMBANGAN SISTEM PERTANIAN LAHAN KERING
DI SUMBAWA BARAT, NTB

Pemanfaatan lahan kering merupakan salah satu alternatif untuk meningkatkan produktivitas pangan guna memenuhi kebutuhan pangan penduduk yang terus meningkat. Lahan produktif irigasi teknis yang selama ini menjadi tumpuan harapan masyarakat, luasannya semakin berkurang sebagai akibat berlanjutnya konversi lahan ke penggunaan non pertanian, seperti perluasan pemukiman, pengembangan industri, jalan dan lain-lain. Disisi lain penyediaan air untuk pertanian mulai berkurang, karena semakin berkurangnya sumber mata air dan meningkatnya kebutuhan air untuk keperluan penduduk dan industri.
Hasil evaluasi lahan dan pewilayahan komoditas pertanian berdasarkan zona agroekologi (ZAE) skala 1:50.000 wilayah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), memiliki lahan kering yang cukup luas yaitu sekitar 167.467 ha (95,33%) dari luas wilayah. Dari luas tersebut seluas 148.242 ha (88,52%) adalah hutan lahan kering, sedangkan seluas 3.795 ha (2,27%) adalah lahan kering non pertanian (pekarangan, pemukiman, jalan,) dan hanya 15.430 ha (9,21%) adalah lahan kering yang berpotensi untuk pengembangan sistem pertanian (Nazam et al., 2005).
Lahan kering yang sangat luas di KSB berpotensi untuk diusahakan untuk berbagai komoditas unggulan dan andalan pertanian yang bernilai ekonomi tinggi. Namun sampai saat ini potensi tersebut belum dapat dimanfaatkan secara optimal karena berbagai kendala, baik ketersediaan air yang terbatas, kondisi fisika dan kimia tanah yang kurang menguntungkan, maupun kendala sosial-ekonomi dan kelembagaan yang sangat kompleks. Agar wilayah lahan kering yang ada dapat diberdayakan bagi pembangunan pertanian yang berkelanjutan, maka perlu dilakukan upaya pengelolaan lahan kering yang sesuai dengan kemampuan agroekosistemnya.
Keragaman agroekosistem (biofisik, agrokilimat, sosial budaya) dapat dimanfaatkan sebagai dasar pewilayahan komoditas pertanian maupun arahan pengembangan sistem pertanian yang tepat dan berkelanjutan. Konsep dasar ZAE adalah penyederhanaan dan pengelompokan agroekosistem yang beragam tersebut ke dalam bentuk klasifikasi yang lebih aplikatif (Las et al., 1990). Pembagian wilayah ke dalam zone-zone berdasarkan kemiripan (similarity) karakteristik iklim, terrain, dan tanah, akan memberikan keragaan tanaman yang tidak berbeda secara nyata (FAO, 1996).
Data dan informasi potensi sumberdaya lahan dalam piranti yang jelas dan akurat sangat diperlukan untuk menyusun arahan pengembangan komoditas pertanian baik oleh petani, dinas/instansi pemerintah maupun para investor secara efektif, efisien dan berwawasan lingkungan. Kesesuaian komoditas maupun sistem pertanian yang dikembangkan yang sesuai dengan kondisi biofisik dan agroklimat akan dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi usahatani untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani secara berkelanjutan.
Peta arahan pewilayahan komoditas pertanian pada skala 1:50.000 dapat dimanfaatkan untuk menyusun arahan pengembangan sistem pertanian yang lebih operasional pada tingkat perencanaan Kabupaten. Arahan pewilayahan komoditas pertanian yang disusun selain mempertimbangkan kondisi biofisik dan agroklimat wilayah, juga mempertimbangkan peluang investasi, aksesibilitas, sosial ekonomi dan budaya setempat, juga mempertimbangkan penggunaan lahan saat ini (present land use), sehingga arahan yang dihasilkan adalah yang sesuai secara fisik maupun ekonomi.Arahan pengembangan sistem pertanian lahan kering yang dihasilkan diharapkan dapat digunakan sebagai acuan bagi para petani, perencana, investor dan pihak yang terkait dalam:
  1. Perencanaan dan pengelolaan sumberdaya lahan yang efektif dan berkelanjutan;
  2. Pemilihan komoditas yang sesuai;
  3. Penetapan kawasan pengembangan komoditas pertanian; dan
  4. Pemilihan inovasi teknologi yang dibutuhkan.

BAHAN DAN METODE

Bahan yang digunakan adalah data dan informasi hasil pewilayahan komoditas pertanian berdasarkan zona agroekologi skala 1:50.000 di KSB (Nazam et al., 2005). Pemanfaatan dan pendayagunaan data dan informasi tersebut dilakukan dengan pendekatan desk study. Evaluasi lahan dilakukan dengan membandingkan (matching) antara karakteristik lahan dan persyaratan tumbuh tanaman (Djaenuddin et al., 2003), perhitungannya menggunakan program Automated Land Evaluation System (ALES) model Rossiter dan Van Wambeke (1997) yang menghasilkan kelas kesesuaian lahan untuk komoditas pertanian.
Kelas kesesuaian lahan secara fisik menurut Djaenudin et al, (2003) dibedakan atas 4 kelas, yaitu kelas S1 (sangat sesuai) artinya tanpa atau sedikit pembatas untuk penggunaannya; S2 (cukup sesuai) artinya tingkat pembatas sedang untuk penggunaannya; S3 (sesuai marjinal) artinya tingkat pembatas berat untuk penggunaanya dan N (tidak sesuai) artinya penggunaannya tidak memungkinkan. Hasil evaluasi lahan secara fisik dengan asumsi penerapan input sedang, dan dilengkapi dengan analisis ekonomi yang mempertimbangkan aksesibilitas, pasar, komoditas unggulan, dan kelayakan ekonomi, dengan menggunakan program Modul Pewilayahan Komoditas (MPK) model Bachri et al.(2002) menghasilkan arahan pewilayahan komoditas dan pengembangan sistem pertanian yang sesuai baik secara fisik maupun ekonomi dan berkelanjutan.